Belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.[1]
Belajar secara umum diartikan sebagai
perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman dan bukan karena
pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak
lahir.[2]
Sedangkan menurut Hilgard seperti dikutip
Wina Sanjaya menyatakan: “Learning is the process by which an activity
originates or changed through training procedures (whether in the laboratory or
in the natural environment) as distinguished from changes by factors not
attributable to training”. [3]
Islam sebagai agama sangat menekankan
pentingnya belajar. Karena dengan belajar seseorang akan mengerti dan memahami
segala sesuatu. Kata-kata kunci, seperti ya’qilun, yatafakkarun, yubshirun,
yasma’un dan sebagainnya yang terdapat dalam Al Qur’an, merupakan bukti
betapa pentingnya penggunaan fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar
dan meraih ilmu pengetahuan.[4]
Dari beberapa definisi belajar di atas
dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan yang tidak
terpengaruh pertumbuhan, perkembangan fisik atau karakter seseorang, akan
tetapi perubahan dilihat dari pengetahuan, perilaku dan keterampilan seseorang melalui
pengalaman interaksi dengan individu lainnya baik dilakukan sengaja maupun
tidak sengaja berlangsung sepanjang waktu dan membawa perubahan pada diri
siswa. Belajar tidak terbatas hanya di kelas, laboratorium, sarana belajar,
perpustakaan dan ruang penunjang belajar di sekolah. Belajar bisa dilakukan
dimana saja tanpa terbatas waktu dan tempat.
Perubahan yang terjadi bisa dilihat dari
perubahan kemampuan atau kompetensi yang dimiliki siswa. Seperti, awalnya siswa
tidak mengerti menjadi mengerti, kepribadiannya buruk menjadi baik, dan
keterampilannya kurang menjadi memuaskan. Islam memerintahkan manusia untuk
terus belajar.
Meskipun hasil perubahan dapat dilihat,
selama proses belajar perubahan itu tidak dapat dilihat dan disaksikan. Siswa
yang ketika guru menjelaskan suatu materi pelajaran nampaknya memerhatikan guru
dengan serius bahkan diringi anggukan kepala belum tentu memahami materi
pelajaran. Mungkin siswa lelah, takut karena guru galak, pura-pura mengerti, atau
ingin mengambil simpati guru saja.
Kata dasar “pembelajaran” adalah belajar.
Dalam arti sempit pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara
yang dilakukan agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar. Sedangkan
belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku karena interaksi individu
dengan lingkungan dan pengalaman.[5]
Menurut Iwan Purwanto, “Pembelajaran
merupakan inti dan muara segenap proses pengelolaan pendidikan. Kualitas sebuah
lembaga pendidikan hakikatnya diukur dari kualitas proses pembelajarannya,
disamping output dan outcome yang dihasilkan”.[6]
Pembelajaran merupakan usaha sadar dari
seorang guru untuk membelajarkan siswanya dalam upaya mencapai tujuan yang
diharapkan bersama.[7]
Proses kegiatan yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima
materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematis dan saling
memengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang
diinginkan pada suatu lingkungan belajar.[8] Guru dan
siswa tidak berdiri secara sendiri-sendiri, masing-masing saling memiliki
keterkaitan. Guru dan siswa menjadi partner yang baik, dimana komunikasi
dan interaksi harus terjadi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
[1]Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), Cet. V, h. 2
[2]Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif:
Konsep, Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), Cet. VI, h. 16
[3]Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan
Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2013), Cet. V, h. 235
[4]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2011), Cet. XVII, h. 99
[5]Zainal
Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta: Kemenag RI, 2012), Cet. II, h.
12
[6]Iwan
Purwanto, Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, (Jakarta: FITK UIN
Jakarta, 2014), h. 45
[7]Trianto, op. cit., h. 17
[8]A. Rusdiana dan Yeti Heryati, Pendidikan Profesi
Keguruan Menjadi Guru Inspiratif dan Inovatif, (Bandung: CV. Pustaka Setia,
2015), h. 146-147

Post a Comment