Hasil belajar merupakan penguasaan
kemampuan yang dicapai siswa meliputi kemampuan pengetahuan, kemampuan perilaku
dan kemampuan motoriknya. Hasil belajar ini digunakan guru untuk mengetahui
sejauh mana capaian yang telah siswa peroleh selama proses pembelajaran yang
berlangsung.
Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh
siswa dalam mencapai tujuan pengajaran. Sedangkan hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya.[1]
Menurut Bloom seperti dikutip Nana Sudjana,
secara garis besar klasifikasi hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah (domain),
yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.[2]
Uraian ketiga ranah tersebut dapat dilihat
di bawah ini:
1)
Ranah kognitif
Ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya,
segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ranah kognitif. Ranah
kognitif dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu:
a)
Pengetahuan (knowledge)
Kemampuan seseorang untuk mengingat hal-hal
yang telah dipelajari dan disimpan dalam ingatan sebelumnya seperti nama,
istilah, definisi, ide, rumus-rumus, dan sebagainya. Pengetahuan yang disimpan
dalam ingatan digali saat dibutuhkan melalui bentuk mengingat (recall)
atau mengenal kembali (recognition).
b)
Pemahaman (comprehension)
Kemampuan seseorang untuk mengerti atau
memahami sesuatu yang telah dipelajari setelah proses mengingat atau
mengetahui. Kemampuan pemahaman ini dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu
menerjemahkan (translation), menginterpretasi (interpretation),
dan mengekstrapolasi (extrapolation).
c)
Penerapan (application)
Kemampuan menerapkan atau menggunakan suatu
kaidah atau metode dalam bentuk aplikasi metode kerja pada pemecahan problem
atau kasus yang baru dihadapi.
d)
Analisis (analysis)
Kemampuan menguraikan suatu kesatuan
menjadi rincian atau bagian-bagian kecil, sehingga struktur keseluruhan dapat
dipahami dengan baik.
e)
Sintesis (synthesis)
Kemampuan membentuk suatu kesatuan atau
pola baru melalui membuat suatu rencana yang menuntut adanya kriteria untuk
menemukan pola dan struktur organisasi yang dimaksud.
f)
Evaluasi (evaluation)
Kemampuan kognitif ini berada di tingkat
teratas dalam ranah kognitif. Seseorang mampu membuat pertimbangan terhadap
suatu situasi, nilai, atau ide. Kemampuan membentuk suatu pendapat dan
mempertanggungjawabkan berdasarkan kriteria tertentu yang dinyatakan dengan
kemampuan memberikan penilaian.[3]
2)
Ranah afektif
Ranah yang berkaitan dengan sikap dan
nilai, dan sikap seorang dapat diramalkan perubahannya apabila ia telah
memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.
Di antara hal yang berkenaan dengan ranah
afektif sebagai berikut:
a)
Penerimaan (receiving)
Kepekaan terhadap suatu rangsangan (stimulus)
dan kesediaan memperhatikan rangsangan tersebut meskipun bersifat pasif.
b)
Partisipasi (responding)
Kesediaan untuk memperhatikan secara aktif
dalam bentuk ikut terlibat atau berpartisipasi terhadap suatu kegiatan.
c)
Penilaian (valuing)
Memberikan penilaian terhadap suatu hal dan
memposisikan diri sesuai penilaian yang dibuat dan tingkah laku konsisten.
d)
Organisasi (organization)
Membentuk suatu sistem nilai sebagai
pedoman dan pegangan kehidupan serta dinyatakan dalam pengembangan suatu
perangkat nilai.
e)
Pembentukan pola hidup (characterization)
Menghayati nilai-nilai kehidupan sehingga
dapat menginternalisasikannya dalam diri menjadi pedoman nyata dan jelas dalam
kehidupan sehari-hari melalui pengaturan hidup dalam berbagai bidang kehidupan.[4]
3)
Ranah psikomotor
Ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill)
atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar
tertentu. Hal-hal yang berkaitan dengan ranah psikomotor antara lain:
a)
Persepsi (perception)
Kemampuan membedakan atau
mendiskriminasikan antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan
antar ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan.
b)
Kesiapan (set)
Kemampuan menempatkan diri dalam keadaan
akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan, yang dinyatakan dalam bentuk
kesiapan jasmani dan mental.
c)
Gerakan terbimbing (guided
response)
Kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian
gerak-gerik, yang dinyatakan dengan menggerakkan anggota tubuh sesuai contoh
yang telah diberikan.
d)
Gerakan yang terbiasa (mechanical
response)
Kemampuan melakukan suatu rangkaian
gerak-gerik dengan lancar tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.
e)
Gerakan yang kompleks (complex
response)
Kemampuan melakukan keterampilan yang
terdiri dari beberapa komponen dengan lancar, tepat, dan efisien, yang
dinyatakan dalam suatu rangkaian yang berurutan.
f)
Penyesuaian pola gerakan (adjustment)
Kemampuan mengadakan perubahan dan
penyesuaian pola gerak-gerik dengan kondisi setempatt atau dengan menunjukkan
suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran.
g)
Kreativitas (creativity)
Kemampuan melahirkan pola gerak-gerik yang
baru, yang dilakukan atas prakarsa atau inisiatif sendiri.[5]
Adapun tujuan penilaian hasil belajar
adalah:
1.
Mengetahui tingkat
penguasaan peserta didik terhadap materi yangtelah diberikan.
2.
Mengetahui kecakapan,
motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran.
3.
Mengetahui tingkat
kemajuan dan kesesuaian hasil belajar dengan SK/KD.
4.
Mendiagnosis keunggulan
dan kelemahan peserta didik.
5.
Seleksi, yaitu memilih dan
menentukan peserta didik yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu.
6.
Menentukan kenaikan kelas.
7.
Menempatkan peserta didik
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.[6]

Post a Comment