Menurut Gagne seperti yang dikutip oleh
Hamzah, terdapat delapan tipe belajar. Kedelapan tipe ini bersifat hierarki
atau bertingkat, yaitu: (1) belajar isyarat (signal learning); (2)
belajar stimulus-respons (stimulus respons learning); (3) belajar
rangkaian (chaining); (4) asosiasi verbal (verbal association);
(5) belajar diskriminasi (discrimination learning); (6) belajar konsep (concept
learning); (7) belajar aturan (role learning), dan; (8) belajar
pemecahan masalah (problem solving).[1]
Penjelasan singkat kedelapan tipe belajar
dapat dilihat dari uraian berikut ini:
1)
Belajar Isyarat (Signal
Learning)
Belajar isyarat pada intinya bentuk belajar
yang bersifat tidak disadari. Misalnya ketika menutup mulut dengan telunjuk
sebagai isyarat, dapat dipahami memerintahkan untuk diam. Atau melambaikan
tangan ke arah orang lain, dapat dipahami memanggil. Diam dan datang merupakan
respon yang terjadi secara tidak sadar.
2)
Belajar Stimulus-Respons (Stimulus
Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat.Belajar S-R
ini bersifat spesifik. Respon yang ditunjukkan bisa diperkuat dengan reinforcement
yang berulang. Misalnya ketika guru menanyakan 4 x 2 pasti siswa akan menjawab
8. Pertanyaan tersebut merupakan stimulus dan jawaban tersebut respon. Untuk
mendapatkan respon yang spesifik guru harus melakukan penguatan terhadap
hapalan perkalian siswa.
3)
Belajar Rangkaian (Chaining)
Belajar menghubungkan satu per satu menjadi
seperti sebuah rangkaian. Hal ini terjadi misalnya ketika anak memakai baju,
memakai celana, mengikat sepatu dan kegiatan motorik lainnya. Proses
menghubungkan ini terjadi setelah melalui berbagai stimulus-respon.
4)
Asosiasi Verbal (Verbal
Association)
Belajar dalam tipe ini seseorang mampu
mengaitkan dan memberikan reaksi meskipun bersifat verbal. Asosiasi verbal ini
dapat terbentuk sesuai urutan tertentu dan satu dengan lainnya saling
mengikuti. Misalnya ketika guru mengatakan “Piramida”, siswa akan menjawab
piramida adalah salah satu bangun ruang yang berbentuk limas. Jawaban itu tidak
akan tepat jika siswa tidak mengetahui bangun ruang lainnya seperti kubus,
balok, kerucut, limas dan lainnya.
5)
Belajar Diskriminasi (Discrimination
Learning)
Pada tipe belajar ini seseorang mampu
membedakan berbagai rangkaian. Misalnya mampu membedakan berbagai bentuk, dan
dapat menyebutkan jenis berdasarkan karakteristik tertentu.
6)
Belajar Konsep (Concept
Learning)
Belajar konsep ini diperoleh dari hasil
berbagai tafsiran terhadap fakta atau realita dan hubungan antar fakta serta
melalui proses belajar diskriminasi. Kemampuan dalam menjelaskan sesuatu berdasarkan
kumpulan fakta menjadi kesatuan konsep. Misalnya konsep manusia, konsep hewan, konsep
sejarah dan konsep lainnya.
7)
Belajar Aturan (Role
Learning)
Tipe belajar ini seseorang mampu
menghubungkan beberapa konsep. Tipe ini satu tingkat di atas belajar konsep. Kemampuan
menghubungkan konsep ini dapat dipergunakan untuk mengemukakan formula, hukum,
atau dalil. Misalnya seseorang mengatakan bahwa besaran sudut segitiga
seluruhnya adalah 180°.
8)
Belajar Pemecahan Masalah
(Problem Solving Learning)
Tipe belajar ini adalah puncak dari tipe
belajar. Kemampuan memecahkan masalah dapat dilakukan setelah seseorang mampu
mengaplikasikan berbagai aturan yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Proses
pemecahan masalah ini memerlukan waktu yang lama.[2]

Post a Comment