Halloween Costume ideas 2015

Tipe-Tipe Belajar


Menurut Gagne seperti yang dikutip oleh Hamzah, terdapat delapan tipe belajar. Kedelapan tipe ini bersifat hierarki atau bertingkat, yaitu: (1) belajar isyarat (signal learning); (2) belajar stimulus-respons (stimulus respons learning); (3) belajar rangkaian (chaining); (4) asosiasi verbal (verbal association); (5) belajar diskriminasi (discrimination learning); (6) belajar konsep (concept learning); (7) belajar aturan (role learning), dan; (8) belajar pemecahan masalah (problem solving).[1]
Penjelasan singkat kedelapan tipe belajar dapat dilihat dari uraian berikut ini:
1)      Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat pada intinya bentuk belajar yang bersifat tidak disadari. Misalnya ketika menutup mulut dengan telunjuk sebagai isyarat, dapat dipahami memerintahkan untuk diam. Atau melambaikan tangan ke arah orang lain, dapat dipahami memanggil. Diam dan datang merupakan respon yang terjadi secara tidak sadar.
2)      Belajar Stimulus-Respons (Stimulus Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat.Belajar S-R ini bersifat spesifik. Respon yang ditunjukkan bisa diperkuat dengan reinforcement yang berulang. Misalnya ketika guru menanyakan 4 x 2 pasti siswa akan menjawab 8. Pertanyaan tersebut merupakan stimulus dan jawaban tersebut respon. Untuk mendapatkan respon yang spesifik guru harus melakukan penguatan terhadap hapalan perkalian siswa.
3)      Belajar Rangkaian (Chaining)
Belajar menghubungkan satu per satu menjadi seperti sebuah rangkaian. Hal ini terjadi misalnya ketika anak memakai baju, memakai celana, mengikat sepatu dan kegiatan motorik lainnya. Proses menghubungkan ini terjadi setelah melalui berbagai stimulus-respon.
4)      Asosiasi Verbal (Verbal Association)
Belajar dalam tipe ini seseorang mampu mengaitkan dan memberikan reaksi meskipun bersifat verbal. Asosiasi verbal ini dapat terbentuk sesuai urutan tertentu dan satu dengan lainnya saling mengikuti. Misalnya ketika guru mengatakan “Piramida”, siswa akan menjawab piramida adalah salah satu bangun ruang yang berbentuk limas. Jawaban itu tidak akan tepat jika siswa tidak mengetahui bangun ruang lainnya seperti kubus, balok, kerucut, limas dan lainnya.
5)      Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning)
Pada tipe belajar ini seseorang mampu membedakan berbagai rangkaian. Misalnya mampu membedakan berbagai bentuk, dan dapat menyebutkan jenis berdasarkan karakteristik tertentu.
6)      Belajar Konsep (Concept Learning)
Belajar konsep ini diperoleh dari hasil berbagai tafsiran terhadap fakta atau realita dan hubungan antar fakta serta melalui proses belajar diskriminasi. Kemampuan dalam menjelaskan sesuatu berdasarkan kumpulan fakta menjadi kesatuan konsep. Misalnya konsep manusia, konsep hewan, konsep sejarah dan konsep lainnya.
7)      Belajar Aturan (Role Learning)
Tipe belajar ini seseorang mampu menghubungkan beberapa konsep. Tipe ini satu tingkat di atas belajar konsep. Kemampuan menghubungkan konsep ini dapat dipergunakan untuk mengemukakan formula, hukum, atau dalil. Misalnya seseorang mengatakan bahwa besaran sudut segitiga seluruhnya adalah 180°.
8)      Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving Learning)
Tipe belajar ini adalah puncak dari tipe belajar. Kemampuan memecahkan masalah dapat dilakukan setelah seseorang mampu mengaplikasikan berbagai aturan yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Proses pemecahan masalah ini memerlukan waktu yang lama.[2]



[1]Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), Cet. VII, h. 8-9
[2] Ibid.                                     

Labels:

Post a Comment

Streamtosoccer.com

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget