Halloween Costume ideas 2015
June 2016

Manzilah.com menayangkan siaran langsung dari Mesjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah Arab Saudi. Dapat diakses via PC dan Mobile. Khusus bulan Ramadhan, shalat taraweh akan dilaksanakan pukul 00.00 WIB. Semoga siaran langsung ini mengobati rindu Anda dalam menikmati shalat taraweh yang biasa tayang di TV lokal. Selamat menyaksikan! 

Manzilah.com menayangkan siaran langsung dari Mesjid Al Haram, Mekkah Al Mukarramah Arab Saudi. Dapat diakses via PC dan Mobile. Khusus bulan Ramadhan, shalat taraweh akan dilaksanakan pukul 00.00 WIB. Semoga siaran langsung ini mengobati rindu Anda dalam menikmati shalat taraweh yang biasa tayang di TV lokal. Selamat menyaksikan!


Ribuan tahun yang lalu, kebesaran bangsa Israel, termasuk kekayaan dan kekuatannya telah dijanjikan oleh Tuhan kepada Ibrahim as. Ini tercantum dalam Bibel, Bibel menjanjikan sebuah bangsa bagi anak-anak Israel. Bangsa lain hanya disebut sedikit, itu pun yang kontak dengan Israel.

Bibel banyak bercerita tetang Israel dan Tuhannya. Dia diilhami oleh Ibrahim as, Isa as, dan Yakub as, untuk hanya menulis tentang Israel secara khusus, hingga Perjanjian Baru ditulis oleh orang Israel ini.

Sebelum Musa as lahir, tidak ada satu bangsa pun di muka bumi ini diketahui sebagai bangsa utama yang ditunjuk Tuhan. Malah tak satu pun yang menuliskan kata Tuhan. Dan, kitab suci pun belum ada. Jadi, lebih dari 2500 tahun manusia ada tanpa sepotong pun perjanjian dan ayat Tuhan.

Hanya sejarah seseorang yang hidup sebelum Israel yang diceritakan dalam Bibel. Bahkan hanya sebelas bab pertama dari lima puluh bab dalam Kitab Kejadian menyangkut sejarah dunia sebelum datangnya Ibrahim as. Jadi, hanya pada sebelas bab pertama yang meliputi sejarah tentang 2000 tahun pertama.

Tuhan mengisi dunia dengan satu orang yaitu Adam as. Kebesaran Tuhan, dari satu orang ini menjadi berjuta manusia. Kepada satu orang ini Tuhan berkomunikasi. Tuhan memberikan ilmu pengetahuan.

Sebagai manusia ada jalan mengikuti inspirasi yang diberikan syaitan. Sebelum Ibrahim as, ada tiga yang mau menerima pandangan hidup menurut Tuhan selama lebih sepertiga dari seluruh perjalanan sejarah manusia. Habil disebut pihak yang benar, sedangkan Enoh berjalan bersama dengan Tuhan dan Nuh as. Mereka yang menyuarakan kebenaran, setia dan taat kepada ajaran Tuhan (lihat Mazmur 119:172).

Di samping ketiga ini tidak ada lagi catatan tentang manusia sebelum Ibrahim as yang menghasilkan undang-undang abadi. Menjelang saat datangnya Ibrahim as manusia telah kehilangan pengetahuan tentang kebenaran Tuhan Maha Pencipta, ajaran-Nya, dan berbagai tujuan yang dinyatkan dalam menciptakan manusia dan bagaimana jalan Tuhan mengarah kepada perdamaian serta kebahagian dan kehidupan yang abadi. Manusia hanya mengejar jalannya sendiri. Berjalan berlawanan arah dengan undang-undang Tuhan.

Dalam keadaan dunia seperti ini, Tuhan memerintahkan Ibrahim as:
“Berfirmanlah Tuhan kepada Abraham: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri  yang akan kutunjukkan kepadamu, Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur dan engkau akan menjadi berkat.”
(Kejadian 12: 1-2)

Di sini ada satu perintah yang mengandung persyaratan dan janji. Hingga kini diketahui bahwa Tuhan telah memenuhi dunia yang bermula dari satu orang. Dia mulai menunjuk dan membesarkan bangsa yang Ia pilih di dunia ini dari satu orang saja yaitu Ibrahim as. Adakah Ibrahim as berhenti untuk menyampaikan argumentasi dan alasannya? Adakah di berkata: “Berikan kami kesempatan untuk menyampaikan alasan. Saya kini hidup di negara Babilonia. Di pusat niaga dunia, pada masyarakat dan kesukacittaan. Mengapa Engkau tidak menjanjikan kepadaku di sini, yang segala sesuatu begitu menyenangkan dan banyak pemikatnya? Mengapa saya harus meninggalkan semua ini untuk pergi ke suatu tanah yang belum punya peradaban?”

Wahyu mengatakan:
“Nah, Ibrahim, berangkatlah.”
Ibrahim berangkat. Tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Tentang lahirnya sebuah bangsa ini, Israel, telah disebutkan: “Umat yang Kubentuk bagi-Ku, akan memberitakan kemasyhuran-Ku.”
(Yesaya 43: 21)

Bersambung…

Disadur dari buku:
Yahudi Riwayatmu Dulu, hal 16-18
oleh DR. H. Lukman Saksono, M.Sc


Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran yang lain. Dalam pembelajaran kooperatif proses kerja sama dalam kelompok lebih ditekankan. Tidak hanya kemampuan akademik dalam penguasaan materi secara individu, tetapi adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut menjadi ciri khas pembelajaran kooperatif.
Terdapat lima macam metode belajar kooperatif yang berhasil dikembangkan para peneliti pendidikan di John Hopkins University yaitu: STAD (Student Teams Achievement Division), TGT (Team Games Tournament), TAI (Team Accelerated Instruction), CIRC (Cooperative Integrated Reading & Composition) dan Jigsaw. Tiga diantaranya yaitu TGT, STAD, dan Jigsaw dapat diterapkan pada hamper seluruh subyek mata pelajaran, sedangkan TAI dan CIRC digunakan pada subyek mata pelajaran tertentu.
1)      STAD (Student Teams Achievement Division)
Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan pendekatan kooperatif yang paling sederhana. Dalam metode ini, siswa dibagi dalam bentuk kelompok beranggotakan 4-5 orang yang berbeda jenis kelamin, etnis dan kemampuan. Guru menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Secara individual setiap 2 minggu siswa diberi kuis. Kuis itu di skor perkembangan.
2)      Jigsaw
Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggungjawab untuk mempelajari bagian tertentu yang diberikan. Jigsaw terdiri dari lima langkah, yaitu mahasiswa membaca dan mengkaji bahan ajar, diskusi kelompok ahli, diskusi kelompok mahasiswa (homogen), tes/kuis, dan penguatan dari guru.
3)      TGT (Team Games Tournament)
TGT hampir sama dengan STAD, namun dalam TGT tidak menggunakan kuis atau silang tanya melainkan menggunakan turnamen atau lomba mingguan. Dalam lomba itu siswa berkompetisi dengan anggota tim lain agar dapat menyumbangkan poin pada skor mereka. TGT terdiri dari empat langkah, yaitu identifikasi masalah, pembahasan masalah dalam kelompok, presentasi hasil bahasan kelompok (turnamen), dan penguatan dari guru.
4)      TAI (Team Accelerated Instruction)
Teknik ini menggabungkan metode belajar kelompok dengan belajar secara individu. Tiap anggota kelompok akan diberi soal-soal bertahap yang harus mereka kerjakan sendiri-sendiri dalam kelompoknya. Setelah itu, hasil pekerjaaan mereka diperiksa oleh anggota tim yang lain. Jika seorang siswa telah mampu mengerjakan soal dalam satu tahap, maka ia diperbolehkan untuk mengerjakan soal selanjutnya dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Namun jika ia belum mampu menjawab suatu soal, maka ia harus mengerjakan kembali soal yang tingkat kesulitannya sama sebelum ia melanjutkan ke soal yang lebih sulit.
5)      CIRC (Cooperative Integrated Reading & Composition)
Teknik ini sejenis dengan TAI, namun hanya ditekankan pada pengajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Aktivitas CIRC terdiri dari siswa mengikuti urutan instruksi guru, latihan tim, asesmen awal tim dan kuis.
Selain lima macam bentuk pembelajaran kooperatif di atas, terdapat beberapa pembelajaran kooperatif lain yakni Group Investigation, Learning Together dan lain sebagainya.[1]


[1] Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), cet. I, h. 137-138

Pembelajaran kooperatif dilandasi beberapa teori belajar, yaitu Teori Ketergantungan Sosial, Teori Behaviorime dan Teori Konstruktivisme.
1)      Teori Ketergantungan Sosial
Teori ini pertama kali diciptakan oleh Morton Deutsch. Ketergantungan sosial terjadi ketika setiap individu berbagi tujuan umum dan setiap individu mendapatkan dampak kegiatan yang lain.[1]
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat unsur ketergantungan positif yang ketika pelaksanaan proses pembelajarannya siswa saling berinteraksi yang masing-masing anggota kelompok berusaha untuk belajar bersama. Oleh sebab itu, teori ini menjadi bagian dari pembentuk yang melandasi pembelajaran kooperatif.
Saling ketergantungan ini dapat dicapai melalui:
a)      Pencapaian tujuan
b)      Menyelesaikan tugas
c)      Bahan atau sumber
d)     Peran
e)      Reward atau hadiah[2]
2)      Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi karena adanya rangsangan (stimulus) yang menimbulkan reaksi (respon) secara mekanis.[3]
Teori belajar ini banyak diterapkan di dalam proses pembelajaran karena sangat kuat jika tujuan yang ingin dicapai adalah hasil belajar semata dan mengkesampingkan proses belajar dan pemahaman siswa.
3)      Teori Konstruktivisme
Teori baru dalam psikologi pendidikan yaitu teori kontruktivisme. Teori ini lahir akibat ketidakpuasan terhadap teori behaviorisme yang menyatakan bahwa belajar adalah proses mekanis yang dipengaruhi oleh stimulus dan respon serta penguatan. Terlebih lagi dalam teori behaviorisme ini mempersamakan proses belajar manusia dengan hewan. Inilah yang mendorong para tokoh kontruktivisme mengemukakan teorinya.
Teori konstruktivis menyatakan bahwa siswa harus mampu menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.[4]
Jean Piaget dan Lev Vygotsky merupakan tokoh yang mempelopori teori belajar konstruktivisme. Menurut Piaget ketika bekerja sama terjadi konflik sosiokognitif yang menciptakan ketidakseimbangan yang menstimulus pandangan, mengangkat kemampuan dan pemikiran. Vygotsky menyampaikan bahwa pengetahuan sebagai suatu produk sosial.[5]
Kedua pandangan konstruktivisme Piaget dan Vygotsky dapat berdampingan. Piaget yang menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman. Vygotsky menekankan interaksi sosial dan proses membangun pengetahuan melalui lingkungan sosial.[6]
Piaget menjelaskan bahwa anak-anak belajar melalui penemuan individual semata sesuai perkembangan usianya, sedangkan Vygotsky mengatakan terdapat peranan orang dewasa dan anak-anak lain yang memudahkan perkembangan belajar anak.
Teori kognitif-konstruktivistik mengisyaratkan beberapa hal sebagai berikut:
a)      Sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas sebagai tempat untuk memecahkan masalah kehidupan.
b)      Pembelajaran seharusnya memberikan manfaat untuk menimbulkan rasa ingin tahu, memotivasi dan belajar secara aktif.
c)      Pembelajaran memberikan kesempatan bagi siswa untuk aktif terlibat, melakukan eksperimen dan membangun sendiri pengetahuan.
d)     Interaksi sosial dalam pembelajaran untuk memacu terbentuknya ide baru dan perkembangan intelektual siswa.[7]



[1]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet. III, h. 363-364
[2]Ibid., h. 364
[3]Ibid., h. 365
[4]Trianto, op. cit., h. 28
[5]Syaiful Bahri Djamarah, loc. cit.
[6]Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), Cet. VI, h. 202
[7]A. Rusdiana dan Yeti Heryati, op. cit., h. 178-179


Sedekat apapun persahabatan dan persaudaraan Abu Bakar dengan Rasulullah Saw, dan seberapa besar Rasulullah Saw menyayangi dan mencintainya sebagai sahabat nomor satu yang terkemuka, kesabaran Abu Bakar belumlah bisa menyamai kesabaran Rasulullah Saw. Rasulullah Saw tidak pernah terpancing kemurkaanya, jika penghinaan dan pelecehan itu ditujukan pada diri Rasulullah Saw sendiri. Lain jika pelecehan dan penghinaan sudah mengarah pada agama Islam yang didakwahkannya, maka Rasulullah akan segera naik pitam, dan segera membalas penghinaan terhadap agama itu, setelah tidak berhasil berdamai di meja perundingan.
Dari Abu Bakar sebenarnya sudah berusaha menyetarakan akhlaknya dengan akhlak Rasulullah Saw. Namun Abu Bakar tetaplah manusia (bukan nabi), dimana setan masih bisa merayunya untuk membalas sebuah cacian atau makian seseorang yang diarahkan kepadanya. Sedangkan Rasulullah Saw, setan tak mampu lagi menggodanya, karena mukjizat dan nur nubuwwah yang terpancarr di wajahnya. Tetapi beliau tetap tidak suka melihat Abu Bakar terpancing emosinya ketika ada orang yang mempermainkan perasaannya.
Peristiwa itu telah terjadi, sebagaimana yang diriwayatakan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Pada suatu ketika ada seseorang yang mencaci maki Abu Bakar dan Rasulullah Saw sedang duduk (bersamanya), lalu Rasulullah Saw merasa kagum dan tersenyum (melihat kesabaran Abu Bakar), tetapi ketika orang tersebut terus menerus mencacinya, maka Abu Bakar sedikit membalasnya.”
Tiba-tiba murkalah Rasulullah Saw lalu beliau bangkit dan pergi meninggalkan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakarr mengikutinya dan berkata: “Wahai Rasulullah, ketika ia sedang mencaciku engkau duduk (terdiam), tetapi ketika aku sedikit membalasnya (kenapa) engkau menjadi murka dan bangkit?”
Maka Rasulullah Saw menjawab:
انَّهُ كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدٌّ عَنْكَ فََلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَقْعُدَ مَعَ الشَّيْطَانِ  
“Sungguh malaikat bersamamu membela dirimu, tetapi ketika engkau membalas sebagian celaan itu, maka datanglah setan, aku tidak sudi duduk bersama setan.”
Kemudian beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, ada tiga kelompok manusia yang semuanya adalah benar, 1) tidak seorang pun yang dianiaya dengan suatu kedzaliman lalu ia menerimanya (dengan tabah) karena Allah kecuali Allah pasti akan memberinya kemenangan yang mulia, 2) tidak seorang pun yang membuka pintu sedekah dengan tujuan ingin menyambung tali silaturrahim kecuali Allah pasti akan memperbanyak jumlah hartanya, dan 3) tidak seorang pun yang membuka pintu minta-minta dengan tujuan ingin mengumpulkannya kecuali Allah pasti akan menjadikannya bertambah sedikit.” (HR. Imam Ahmad).
Rasulullah Saw sangat menyukai orang-orang yang sabar, karena dibalik sifat sabar itu, ternyata tersimpan keberkahan yang demikan agung dan mulia. Contohnya sebagaimana yang tertulis dalam hadits di atas, bahwa kedzaliman yang menimpa diri seseorang dan diterimanya dengan lapang dada, maka Allah akan mengangkat derajat orang tersebut ke arah yang lebih mulia dan dimuliakan.

Menurut Slavin, “Cooperative learning is instructional approaches in which students work in small mixed-ability groups.”[1] Pembelajaran kooperatif adalah sebuah pendekatan instruksional dimana siswa dibentuk dalam kelompok kecil yang memiliki kemampuan berbeda.
The general principle behind cooperative learning is that the students work together as a team to accomplish a common goal, namely that each student learns something of value from the cooperative learning activity.[2] Prinsip umum dari pembelajaran kooperatif adalah siswa bekerja bersama-sama sebagai tim untuk mencapai tujuan bersama, masing-masing siswa belajar sesuatu nilai dari aktivitas pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota.[3]
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cara bersama-sama dan berkelompok dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pembelajaran ini unsur individualistis dan kompetitif tidak terlalu kentara. Karena penyatuan kelompok dibentuk tanpa memandang siswa yang pandai harus dengan siswa pandai dan siswa yang kurang pandai harus dengan siswa kurang pandai pula. Pembentukan kelompok ini ditempuh dengan mempertimbangkan kemampuan dan kompetensi siswa sebelumnya.
Model pembelajaran kelompok atau kooperatif merupakan rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.[4]
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan akademik, keterampilan berpikir, mengintegrasikan dan menerapkan konsep pengetahuan, memecahkan masalah dan meningkatkan harga diri.[5]
Islam sejalan dengan model pembelajaran kooperatif, sebab mengakui adanya persamaan dan perbedaan yang ada pada manusia. Meskipun mengakui, adanya persamaan dan perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan, saling menghina, mengejek, atau menyakiti, melainkan disinergikan dan dipergunakan untuk saling tolong-menolong dan membantu.[6]
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa akan saling membantu dan tolong-menolong dalam kebaikan tanpa memandang perbedaan. Allah Swt. memerintahkan manusia untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah Swt. berfirman:
...وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (سورة المائدة:۲)
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kamu kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Q.S. Al Maidah [5]: 2)[7]
Di surah dan ayat yang lain, dijelaskan bahwa Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda baik gender, etnis, bangsa, dan suku dengan tujuan untuk saling mengenal. Tentu maksudnya bukan hanya saling mengenal tetapi saling membantu, saling berinteraksi, berkomunikasi, dan bersinergi.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(سورة الحجراة:۱۳)
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (Q.S. Al Hujarat [49]: 13)[8]
Selain dari Al Qur’an, Rasulullah Saw. juga mengajarkan konsep belajar interaktif dan kooperatif kepada para sahabatnya. Rasulullah Saw.bersabda:

تَعَلَّمُوْا مِنَ الْعِلْمِ مَا شِئْتُمْ فَوَاللهِ لاَتُؤْجَرُوْنَ بِجَمْعِ الْعِلْمِ حَتَّى تَعْلَمُوْا (رواه ابو الحسن بن الاخزم عن انس)
Artinya: “Pelajarilah ilmu pengetahuan menurut pilihanmu, maka demi Allah, sesungguhnya kamu tidak akan mendapatkan pahala dari semua ilmu yang kamu kumpulkanm sehingga engkau mengamalkan (mengajarkan)-nya.” (HR. Abu al-Hasan bin al-Ahzam dari Anas)[9]
Rasulullah Saw.menekankan bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh dan dikumpulkan akan sia-sia atau tidak mendapat pahala, jika ilmu pengetahuan tersebut tidak diamalkan atau tidak diajarkan kepada orang lain. Konsep ini terdapat pula di pembelajaran kooperatif dimana siswa yang memiliki kemampuan tinggi hendaknya membantu siswa yang memiliki kemampuan rendah. Kemampuan yang tinggi akan sia-sia jika anggota kelompok lainnya tidak mengerti dan menguasai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.


[1]Robert E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, (Boston: Pearson Education, 2012), h. 229
[2]Courtney K. Miller and Reece L. Peterson, Creating a Positive Climate Cooperative Learning, 2015, (www.indiana.edu/~safeschl)
[3]Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. II, h. 4
[4]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), Cet. IX, h. 241
[5]Nana Syaodih dan Erliany Syaodih, Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), h. 147
[6]Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 158
[7]Al-Qur’an, Ar-Rahim (Al-Qur’an dan Terjemahan), (Bandung: Mikraj Khazanah, 2013), h. 106
[8]Ibid., h. 517
[9] Abuddin Nata, op. cit., h. 279


Pada zaman Nabi Muhammad Saw ada seorang pencuri yang hendak bertaubat, dia duduk di majelis Nabi Saw di mana para sahabat berdesak-desakan di Masjid Nabawi. Suatu ketika dia menangkap perkataan Nabi Saw: “Barang siapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaan halal.”
Sungguh dia tidak memahami maksudnya, apalagi ketika para sahabat mendiskusikan hal tersebut setelah majelis, dengan tingkat keimanan dan pemahaman yang jauh di bawah sang pencuri merasa tersisihkan.
Akhirnya malam pun semakin larut, sang pencuri merasa perutnya lapar. Ia pun keluar dari mesjid demi melupakan rasa laparnya.
Di suatu gang tempat dia berjalan, dia mendapati suatu rumah yang pintunya agak terbuka. Dengan naluri mencurinya yang tajam ia dapat melihat dalam gelap bahwa pintu itu tidak terkunci, dan timbullah peperangan dalam hatinya untuk mencuri atau tidak. Tidak, ia merasa tidak boleh mencuri lagi. Tapi ini ada kesempatan, masak dilewatkan begitu saja.
Terjadilah peperangan dalam batinnya dan ada suara aneh yang membisiki hatinya: “Jika kamu tidak mencuri mungkin akan ada pencuri lainnya yang belum tentu seperti kamu.”
Setelah berpikir keras ia memutuskan untuk mengingatkan pemilik rumah di dalam agar mengunci pintu rumahnya, karena sudah lewat tengah malam.
Dia hendak memberi salam, namun timbul kembali suara tadi: “Hei pemuda! Bagaimana kalau ternyata di dalam ada pencuri dan pintu ini ternyata adalah pencuri itu yang membukan, bila engkau mengucap salam akan kagetlah dia dan bersembunyi, alangkah baiknya jika engkau masuk diam-diam dan memergoki dia dengan menangkap!”  Ah… benar juga pikirnya.
Maka masuklah ia ke rumah itu tanpa suara. Ruangan rumah tersebut agak luas, dilihatnya berkeliling, ada satu meja yang penuh makanan, nah, timbullah keinginannya untuk mencuri lagi, namun segera ia sadar, tidak, ia tidak boleh mencuri lagi.
Masuklah ia dengan hati-hati, nah… syukurlah tidak ada pencuri, berarti memang sang pemilik yang lalai mengunci pintu. Sekarang tinggal memberitahukan kepada pemilik rumah tentang kelalaiannya, tiba-tiba terdengar suara mendengkur halus dari sudut ruang. Ah! Ternyata ada yang tidur, mungkin pemilik dan sepertinya perempuan cantik.
Tanpa dia sadari, kakinya melangkah mendekati tempat tidur, perasaannya berkecamuk, macam-macam yang ada di dalam hatinya. Kecantikan, tidak lengkapnya busanan tidur yang menutup sang wanita membuat timbul hasrat kotor dalam dirinya.
Begitu besarnya hasrat itu hingga keluar keringat dinginnya, seakan jelas ia mendengar jantungya berdetak kencang di dadanya, serta tak dia sangka ia sudah duduk mematung di samping tempat tidur. Tidak, aku tidak boleh melakukan ini aku ingin bertaubat dan tidak mau menambah dosa yang ada, tidak!
Segera ia memutar badannya untuk pergi. Akan ia ketuk dan beri salam dari luar sebagaimana tadi. Ketika akan menuju pintu keluar ia melalui meja makan tadi, tiba-tiba terdengar bunyi dalam perutnya, ia lapar. Timbullah suara aneh tadi: “Bagus hei pemuda yang baik, bagaimana ringankah sekarang perasaanmu setelah melawan hawa nafsu birahimu?” Hmm… ya. Alhamdulillah ada rasa bangga dalam hati ini dapat berbuat kebaikan dan niat perbuatan pemberitahuan ini akan sangat terpuji. Pikir sang pemuda.
Suara itu berkata: “Maka sudah sepatutnya engkau memperoleh ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah sedikit makanan untuk mengganjal perutmu agar tidak timbul perasaan dan keinginan mencuri lagi!.”
Si pemuda berpikir dia merenung sebentar, patutkah ia berbuat begitiu? “Hei tiba-tiba ia tersadar serta berucap dalam hati. Engkau dari tadi yang berbicara dan memberi nasehat kepadaku? Tapi nasehatmu itu telah menjadikan aku menjadi tamu tidak diundang seperti ini, tidak… aku tidak akan mendengarkan nasehatmu. Bila engkau Tuhan, tidak akan memberi nasehat seperti ini. Pasti engkau setan…!. Celaka aku, bila ada orang yang di luar melihat perbuatanku, aku harus keluar.”
Maka tergesa-gesa ia keluar rumah wanita tersebut, ketika tiba di hadapan pintu ia mengetuk keras dan mengucap salam yang terdengar serak dan menakutkan. Ia bermaksud membangunkan si empunya rumah. Namun ia khawatir kasrena suaranya yang berubah, setelah itu tanpa memastikan pemiliknya mendengar atau tidak, ia kembali menuju mesjid dengan perasaan resah namun lega, karena tidak ada yang memergoki dia melakukan apa yang disarankan suara aneh tadi.
Sesampai di mesjid, ia melihat Nabi Saw sedang berdiri shalat. Di sudut ruang ada seorang yang membaca Al Qur’an dengan khusyu’ sambil meneteskan air mata, di sudut-sudut terdapat para sahabat dan kaum shuffah tidur. Dingin sekali malam ini, lapar sekali perut ini teringat lagi ia akan pengalaman yang baru ia alami, bersyukur ia atas pertolongan Allah yang menguatkan hatinya.
Tapi… tidak di dengar bisikan Allah di hatinya, apakah Allah marah kepadaku? Lalu ia menghampiri sudut ruang mesjid  duduk dekat pintu, dekat orang yang membaca Al Qur’an. Di tengah lamunannya, ia mendengar sayup namun jelas bait-bait ayat suci…
“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong. “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindari dari pada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja. Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami,  niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri. (QS. 14:21)
Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongiku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih. (QS 14:22)
Bergetarlah hatinya mendengar perkataan Allah yang didengarnya, berkatalah ia, “Engkau berbicara kepadaku, ya Allah?” Serasa lapang hatinya, semakin asyik dia mendengarkan bacaan suci itu, maka lupalah ia akan rasa laparnya, segar rasanya badannya.
Cukup lama ia mendengarkan bacaan orang itu hinga tiba-tiba tersentak ia karena bacaan itu dihentikan berganti dengan ucapan menjawab salam. Terlihat olehnya pula pria itu menjawab salam seorang wanita dan seorang tua yang masuk langsung menuju tempat Nabi Saw sedang duduk berzikir, dan wajah wanita itu… adalah wajah wanita tadi! Wanita cantik yang rumahnya telah dimasukinya.
Timbul gelisah hatinya, apakah tadi ketika ia berada di ruangan itu sang wanita pura-pura tidur dan melihat wajahnya? Ataukah ada orang yang diam-diam melihatnya, mungkin laki-laki yang bersamanya adalah orang yang diam-diam memergokinya ketika ia keluar dan mengetuk pintu rumah itu? Ah! Celaka!
Namun gemetar tubuhnya, tidak mampu ia menggerakan anggota tubuhnya untuk bersembunyi atau pergi apalagi tampak olehnya pria yang tadi membaca Al Qur’an hendak tidur dan tak lama mendengkur. Dan ia lihat mereka sudah berbicara dengan Nabi Saw.
Hampir celentang jatuh ia ketika mendengar suara Nabi Saw: “Hei Fulan, kemarilah!” Dengan perlahan dan perasaan takut ia mendekat. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya.
Ia mendengar sang perempuan masih berbicara kepada Nabi Saw, katanya: “… benar ya Rasulullah, saya sangat takut pada saat itu saya bermimpi rumah saya kemasukan orang yang hendak mencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, ketika saya berontak… ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekelilingnya ternyata pintu rumah saya terbuka sebagaimana mimpi saya dan ada suara menyeramkan yang membuat saya takut. Maka segera saya menuju rumah paman saya untuk meminta dicarikan suami buat saya, agar kejadian yang di mimpi saya tidak terjadi bila saya ada suami yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui engkau di sini agar memilihkan calon suami untuk saya.”
Nabi Saw memandang kepada si pemuda bekar pencuri, lalu berkata: “Hei Fulan, karena tidak ada pria yang bangun kecuali engkau saat ini, maka aku tawarkan padamu, maukah engkau menjadi suaminy?” Terkejut ia mendengar itu, tetapi dengan cepat mengangguklah ia.
Dan setelah shalat subuh, Nabi Saw mengumumkan hal ini dan meminta para sahabat mengumpulkan dana untuk mengadakan pernikahan dan pembayaran mas kawin pemuda ini.
Setelah pernikahannya, tahulah ia akan arti perkataan Nabi Saw yang lalu, “Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaan halal.”
Sekarang ia dapat memakan makanan yang tadinya haram kini dengan halal dan ia dapat menikmati wanita itu sebagai istrinya dengan halal.


Ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Orang terakhir yang masuk surge adalah orang yang sesekali berjalan dan sesekali merangkak, lalu sesekali dijilat oleh api neraka. Setelah melintasinya, dia menoleh kepada api itu serta berkata: “Maha Suci Zat yang telah menganugerahiku sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang pun, baik orang-orang terdahulu maupun orang-orang terkemudian.
Setelah itu, diperlihatkan kepadanya sebatang pohon. Dia pun berkata, “Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepada pohon itu untuk berteduh di bawahnya dan meminum airnya.
Lalu Allah berfirman, “Wahai anak Adam, kiranya kalau AKu kabulkan, kamu akan memohon lainnya? Orang itu berkata, “Tidak wahai Tuhanku.” Orang itu berjanji kepada Allah bahwa dia tidak akan memohon lainnya, tetapi Allah memaafkannya karena sudah mengetahui bahawa dia tidak dapat bersabar untuk mendapatkan nikmat yang pernah dilihatnya. Karena itu, Allah mendekatkan pohon itu kepadanya, lalu dia berteduh di bawahnya dan meminum airnya. Kemudian, diperlihatkan kepadanya sebatang pohon yang lebih bagus daripada yang pertama.
Orang itu pun berkata, “Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepadanya untuk meminum airnya dan berteduh di bawahnya, aku tidak akan memohon lagi yang lain kepada Engkau.”
Allah menjawab, “Wahai anak Adam, bukankah kamu telah mengajukan perjanjian kepada-Ku untuk tidak memohon lainnya, tetapi Allah memaafkannya karena sudah mengetahui bahawa dia tidak akan dapat bersabar untuk mendapatkan nikmat yang pernah dilihatnnya. Karena itu, Allah mendekatkan pohon itu kepadanya, lalu dia berteduh di bawahnya dan meminum airnya. Sesudah itu, Allah memperlihatkan lagi kepadanya sebatang pohon lagi di dekat pintu surge yang lebih bagus.
Lagi-lagi orang itu berkata, “Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepadanya untuk berteduh di bawahnya dan meminum airnya kemudian aku tidak akan memohon lagi yang lain kepada Engkau.”
Allah menjawabnya, “Wahai anak Adam, bukankah kamu telah mengajukan perjanjian kepada-Ku untuk tidak memohon lainnya?”
Orang itu menjawab, “Benar wahai Tuhanku, hanya ini saja, lalu aku tidak akan memohon lagi yang lain.”
Akan tetapi, Tuhannya memamafkannya karena sudah mengetahui bahwa dia tidak akan dapat bersabar untuk mendapatkan nikmat yang pernah dilihatnya. Karena itu, Allah mendekatkan nikmat yang pernah dilihatnya. Karena itu, Allah mendekatkan pohon itu kepadanya. Setelah dia mendekat, dia mendengar suara penduduk surge.
Akhirnya dia berkata, “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalamnya.”
Allah berfirman, “Wahai anak Adam, apakah ada sesuatu yang dapat memutuskan permohonan kepada-Ku? Maukah kamu menerima nikmat yang akan Aku berikan kepadamu sebesar dua kali lipat dunia ini?”
Orang itu berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau mengolok aku, padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?”
Ibn Mas’ud lalu tertawa, Dia berkata, “Tahukah engkau mengapa aku tertawa?” Mereka bertanya, “Mengapa engkau tertawa?” Ibn Mas’ud berkata, “Seperti inilah Rasulullah Saw tertawa.”
Para sahabat juga bertanya kepada Rasulullah, “Mengapa engkau tertawa wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Karena Allah, Tuhan alam semesta ini juga tertawa sewaktu orang itu berkata, Apakah Engkau mengolok-olok aku, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab, Aku tidak mengolok-olokmu, tetapi aku berkuasa atas apa yang aku kehendaki.”


Pada hari yang lain, seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad Saw. Wanita tua ini minta didoakan masuk surga.
“Belum tahukah ibu bahwa surga tertutup bagi wanita-wanita tua?” kata Nabi sengaja menggoda.
Mendengar sabda Nabi Muhammad itu, spontan si nenenk menangis meraung-raung.
Nabi pun tersenyum, lalu bersabda, “Tenang, tenang. Apakah Anda belum pernah membaca firman Allah:
“Kami jadikan perempuan-perempuan surga itu menjadi gadis-gadis perwan yang penuh gairah cinta dan sebaya? (QS Al Waqiah 35-37)
Setelah mendengar sabda Nabi itu, barulah si nenek menghentikan tangisnya dan tertawa gembira.

Streamtosoccer.com

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget