Halloween Costume ideas 2015

Kisah Pencuri Yang Ingin Taubat


Pada zaman Nabi Muhammad Saw ada seorang pencuri yang hendak bertaubat, dia duduk di majelis Nabi Saw di mana para sahabat berdesak-desakan di Masjid Nabawi. Suatu ketika dia menangkap perkataan Nabi Saw: “Barang siapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaan halal.”
Sungguh dia tidak memahami maksudnya, apalagi ketika para sahabat mendiskusikan hal tersebut setelah majelis, dengan tingkat keimanan dan pemahaman yang jauh di bawah sang pencuri merasa tersisihkan.
Akhirnya malam pun semakin larut, sang pencuri merasa perutnya lapar. Ia pun keluar dari mesjid demi melupakan rasa laparnya.
Di suatu gang tempat dia berjalan, dia mendapati suatu rumah yang pintunya agak terbuka. Dengan naluri mencurinya yang tajam ia dapat melihat dalam gelap bahwa pintu itu tidak terkunci, dan timbullah peperangan dalam hatinya untuk mencuri atau tidak. Tidak, ia merasa tidak boleh mencuri lagi. Tapi ini ada kesempatan, masak dilewatkan begitu saja.
Terjadilah peperangan dalam batinnya dan ada suara aneh yang membisiki hatinya: “Jika kamu tidak mencuri mungkin akan ada pencuri lainnya yang belum tentu seperti kamu.”
Setelah berpikir keras ia memutuskan untuk mengingatkan pemilik rumah di dalam agar mengunci pintu rumahnya, karena sudah lewat tengah malam.
Dia hendak memberi salam, namun timbul kembali suara tadi: “Hei pemuda! Bagaimana kalau ternyata di dalam ada pencuri dan pintu ini ternyata adalah pencuri itu yang membukan, bila engkau mengucap salam akan kagetlah dia dan bersembunyi, alangkah baiknya jika engkau masuk diam-diam dan memergoki dia dengan menangkap!”  Ah… benar juga pikirnya.
Maka masuklah ia ke rumah itu tanpa suara. Ruangan rumah tersebut agak luas, dilihatnya berkeliling, ada satu meja yang penuh makanan, nah, timbullah keinginannya untuk mencuri lagi, namun segera ia sadar, tidak, ia tidak boleh mencuri lagi.
Masuklah ia dengan hati-hati, nah… syukurlah tidak ada pencuri, berarti memang sang pemilik yang lalai mengunci pintu. Sekarang tinggal memberitahukan kepada pemilik rumah tentang kelalaiannya, tiba-tiba terdengar suara mendengkur halus dari sudut ruang. Ah! Ternyata ada yang tidur, mungkin pemilik dan sepertinya perempuan cantik.
Tanpa dia sadari, kakinya melangkah mendekati tempat tidur, perasaannya berkecamuk, macam-macam yang ada di dalam hatinya. Kecantikan, tidak lengkapnya busanan tidur yang menutup sang wanita membuat timbul hasrat kotor dalam dirinya.
Begitu besarnya hasrat itu hingga keluar keringat dinginnya, seakan jelas ia mendengar jantungya berdetak kencang di dadanya, serta tak dia sangka ia sudah duduk mematung di samping tempat tidur. Tidak, aku tidak boleh melakukan ini aku ingin bertaubat dan tidak mau menambah dosa yang ada, tidak!
Segera ia memutar badannya untuk pergi. Akan ia ketuk dan beri salam dari luar sebagaimana tadi. Ketika akan menuju pintu keluar ia melalui meja makan tadi, tiba-tiba terdengar bunyi dalam perutnya, ia lapar. Timbullah suara aneh tadi: “Bagus hei pemuda yang baik, bagaimana ringankah sekarang perasaanmu setelah melawan hawa nafsu birahimu?” Hmm… ya. Alhamdulillah ada rasa bangga dalam hati ini dapat berbuat kebaikan dan niat perbuatan pemberitahuan ini akan sangat terpuji. Pikir sang pemuda.
Suara itu berkata: “Maka sudah sepatutnya engkau memperoleh ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah sedikit makanan untuk mengganjal perutmu agar tidak timbul perasaan dan keinginan mencuri lagi!.”
Si pemuda berpikir dia merenung sebentar, patutkah ia berbuat begitiu? “Hei tiba-tiba ia tersadar serta berucap dalam hati. Engkau dari tadi yang berbicara dan memberi nasehat kepadaku? Tapi nasehatmu itu telah menjadikan aku menjadi tamu tidak diundang seperti ini, tidak… aku tidak akan mendengarkan nasehatmu. Bila engkau Tuhan, tidak akan memberi nasehat seperti ini. Pasti engkau setan…!. Celaka aku, bila ada orang yang di luar melihat perbuatanku, aku harus keluar.”
Maka tergesa-gesa ia keluar rumah wanita tersebut, ketika tiba di hadapan pintu ia mengetuk keras dan mengucap salam yang terdengar serak dan menakutkan. Ia bermaksud membangunkan si empunya rumah. Namun ia khawatir kasrena suaranya yang berubah, setelah itu tanpa memastikan pemiliknya mendengar atau tidak, ia kembali menuju mesjid dengan perasaan resah namun lega, karena tidak ada yang memergoki dia melakukan apa yang disarankan suara aneh tadi.
Sesampai di mesjid, ia melihat Nabi Saw sedang berdiri shalat. Di sudut ruang ada seorang yang membaca Al Qur’an dengan khusyu’ sambil meneteskan air mata, di sudut-sudut terdapat para sahabat dan kaum shuffah tidur. Dingin sekali malam ini, lapar sekali perut ini teringat lagi ia akan pengalaman yang baru ia alami, bersyukur ia atas pertolongan Allah yang menguatkan hatinya.
Tapi… tidak di dengar bisikan Allah di hatinya, apakah Allah marah kepadaku? Lalu ia menghampiri sudut ruang mesjid  duduk dekat pintu, dekat orang yang membaca Al Qur’an. Di tengah lamunannya, ia mendengar sayup namun jelas bait-bait ayat suci…
“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong. “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindari dari pada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja. Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami,  niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri. (QS. 14:21)
Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongiku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih. (QS 14:22)
Bergetarlah hatinya mendengar perkataan Allah yang didengarnya, berkatalah ia, “Engkau berbicara kepadaku, ya Allah?” Serasa lapang hatinya, semakin asyik dia mendengarkan bacaan suci itu, maka lupalah ia akan rasa laparnya, segar rasanya badannya.
Cukup lama ia mendengarkan bacaan orang itu hinga tiba-tiba tersentak ia karena bacaan itu dihentikan berganti dengan ucapan menjawab salam. Terlihat olehnya pula pria itu menjawab salam seorang wanita dan seorang tua yang masuk langsung menuju tempat Nabi Saw sedang duduk berzikir, dan wajah wanita itu… adalah wajah wanita tadi! Wanita cantik yang rumahnya telah dimasukinya.
Timbul gelisah hatinya, apakah tadi ketika ia berada di ruangan itu sang wanita pura-pura tidur dan melihat wajahnya? Ataukah ada orang yang diam-diam melihatnya, mungkin laki-laki yang bersamanya adalah orang yang diam-diam memergokinya ketika ia keluar dan mengetuk pintu rumah itu? Ah! Celaka!
Namun gemetar tubuhnya, tidak mampu ia menggerakan anggota tubuhnya untuk bersembunyi atau pergi apalagi tampak olehnya pria yang tadi membaca Al Qur’an hendak tidur dan tak lama mendengkur. Dan ia lihat mereka sudah berbicara dengan Nabi Saw.
Hampir celentang jatuh ia ketika mendengar suara Nabi Saw: “Hei Fulan, kemarilah!” Dengan perlahan dan perasaan takut ia mendekat. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya.
Ia mendengar sang perempuan masih berbicara kepada Nabi Saw, katanya: “… benar ya Rasulullah, saya sangat takut pada saat itu saya bermimpi rumah saya kemasukan orang yang hendak mencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, ketika saya berontak… ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekelilingnya ternyata pintu rumah saya terbuka sebagaimana mimpi saya dan ada suara menyeramkan yang membuat saya takut. Maka segera saya menuju rumah paman saya untuk meminta dicarikan suami buat saya, agar kejadian yang di mimpi saya tidak terjadi bila saya ada suami yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui engkau di sini agar memilihkan calon suami untuk saya.”
Nabi Saw memandang kepada si pemuda bekar pencuri, lalu berkata: “Hei Fulan, karena tidak ada pria yang bangun kecuali engkau saat ini, maka aku tawarkan padamu, maukah engkau menjadi suaminy?” Terkejut ia mendengar itu, tetapi dengan cepat mengangguklah ia.
Dan setelah shalat subuh, Nabi Saw mengumumkan hal ini dan meminta para sahabat mengumpulkan dana untuk mengadakan pernikahan dan pembayaran mas kawin pemuda ini.
Setelah pernikahannya, tahulah ia akan arti perkataan Nabi Saw yang lalu, “Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang haram itu dalam keadaan halal.”
Sekarang ia dapat memakan makanan yang tadinya haram kini dengan halal dan ia dapat menikmati wanita itu sebagai istrinya dengan halal.

Labels:

Post a Comment

Streamtosoccer.com

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget