Menurut
Slavin, “Cooperative learning is instructional approaches in which students
work in small mixed-ability groups.”[1]
Pembelajaran kooperatif adalah sebuah pendekatan instruksional dimana siswa dibentuk
dalam kelompok kecil yang memiliki kemampuan berbeda.
The
general principle behind cooperative learning is that the students work
together as a team to accomplish a common goal, namely that each student learns
something of value from the cooperative learning activity.[2] Prinsip umum dari pembelajaran
kooperatif adalah siswa bekerja bersama-sama sebagai tim untuk mencapai tujuan
bersama, masing-masing siswa belajar sesuatu nilai dari aktivitas pembelajaran
kooperatif.
Pembelajaran
kooperatif mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama
dalam bekerja atau membantu sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam
kelompok, terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat
dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota.[3]
Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cara bersama-sama dan
berkelompok dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan bersama. Dalam
pembelajaran ini unsur individualistis dan kompetitif tidak terlalu kentara. Karena
penyatuan kelompok dibentuk tanpa memandang siswa yang pandai harus dengan
siswa pandai dan siswa yang kurang pandai harus dengan siswa kurang pandai pula.
Pembentukan kelompok ini ditempuh dengan mempertimbangkan kemampuan dan
kompetensi siswa sebelumnya.
Model
pembelajaran kelompok atau kooperatif merupakan rangkaian kegiatan belajar yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan.[4]
Beberapa
hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan
kemampuan akademik, keterampilan berpikir, mengintegrasikan dan menerapkan
konsep pengetahuan, memecahkan masalah dan meningkatkan harga diri.[5]
Islam
sejalan dengan model pembelajaran kooperatif, sebab mengakui adanya persamaan
dan perbedaan yang ada pada manusia. Meskipun mengakui, adanya persamaan dan
perbedaan tersebut bukan untuk dipertentangkan, saling menghina, mengejek, atau
menyakiti, melainkan disinergikan dan dipergunakan untuk saling tolong-menolong
dan membantu.[6]
Dalam
pembelajaran kooperatif, siswa akan saling membantu dan tolong-menolong dalam
kebaikan tanpa memandang perbedaan. Allah Swt. memerintahkan manusia untuk
saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah Swt. berfirman:
...وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا
عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ
الْعِقَابِ (سورة المائدة:۲)
Artinya: “Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kamu kepada Allah, sungguh, Allah sangat
berat siksa-Nya.” (Q.S. Al Maidah [5]: 2)[7]
Di surah
dan ayat yang lain, dijelaskan bahwa Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda
baik gender, etnis, bangsa, dan suku dengan tujuan untuk saling mengenal. Tentu
maksudnya bukan hanya saling mengenal tetapi saling membantu, saling
berinteraksi, berkomunikasi, dan bersinergi.
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ
اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(سورة الحجراة:۱۳)
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh,
Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan,
kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
kenal mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (Q.S.
Al Hujarat [49]: 13)[8]
Selain dari Al Qur’an, Rasulullah
Saw. juga mengajarkan konsep belajar interaktif dan kooperatif kepada para
sahabatnya. Rasulullah Saw.bersabda:
تَعَلَّمُوْا مِنَ الْعِلْمِ مَا شِئْتُمْ فَوَاللهِ لاَتُؤْجَرُوْنَ
بِجَمْعِ الْعِلْمِ حَتَّى تَعْلَمُوْا (رواه ابو الحسن بن الاخزم عن انس)
Artinya: “Pelajarilah ilmu
pengetahuan menurut pilihanmu, maka demi Allah, sesungguhnya kamu tidak akan
mendapatkan pahala dari semua ilmu yang kamu kumpulkanm sehingga engkau
mengamalkan (mengajarkan)-nya.” (HR. Abu al-Hasan bin al-Ahzam dari Anas)[9]
Rasulullah Saw.menekankan
bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh dan dikumpulkan akan sia-sia atau tidak
mendapat pahala, jika ilmu pengetahuan tersebut tidak diamalkan atau tidak
diajarkan kepada orang lain. Konsep ini terdapat pula di pembelajaran
kooperatif dimana siswa yang memiliki kemampuan tinggi hendaknya membantu siswa
yang memiliki kemampuan rendah. Kemampuan yang tinggi akan sia-sia jika anggota
kelompok lainnya tidak mengerti dan menguasai tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai.
[1]Robert E. Slavin, Educational Psychology: Theory
and Practice, (Boston: Pearson Education, 2012), h. 229
[2]Courtney K. Miller and Reece L. Peterson, Creating
a Positive Climate Cooperative Learning, 2015, (www.indiana.edu/~safeschl)
[3]Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperative Learning
Analisis Model Pembelajaran IPS, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Cet. II, h.
4
[4]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), Cet. IX, h. 241
[5]Nana Syaodih dan Erliany Syaodih, Kurikulum dan
Pembelajaran Kompetensi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), h. 147
[6]Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi
Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 158
[9] Abuddin Nata, op. cit., h. 279

Post a Comment