Di waktu masih kanak-kanak, ketika
ditanya apa yang kalian cita-citakan? Atau jika kalian sudah besar kalian ingin
jadi apa? Sebagian besar anak-anak akan menjawab, saya ingin jadi dokter, saya
ingin jadi polisi, saya ingin jadi pilot, saya ingin jadi tentara, dan saya
ingin jadi guru. Khusus untuk cita-cita yang terakhir yang saya sebutkan,
mungkin Anda akan menebak bahwa saya adalah anak yang termasuk yang memiliki
cita-cita ingin jadi guru. Tidak! Bukan! Itu bukan saya.
Saya tidak memiliki cita-cita sedikit
pun ingin menjadi guru atau pendidik. Ketika kecil, saya ingin sekali menjadi
pengusaha atau pedagang. Ini serius!. Saya memiliki keinginan atau cita-cita
seperti itu karena Nabi Muhammad Saw. adalah seorang pengusaha atau pedagang
yang hebat. Sampai saat ini saya masih tetap memiliki keinginan menjadi
pengusaha atau pedagang layaknya baginda Nabi Saw. Lalu, mengapa? Nampaknya
judul berlawanan dengan isi bukan?. Ini tidak berhubungan!. Saya ingin membawa
Anda masuk dalam dunia saya terlebih dahulu. Jadi, lepaskanlah kepenatan dan cepatnya Anda mengambil
kesimpulan. Stay enjoy!
Ayah saya ketika saya masih kecil
adalah seorang tukang kayu atau mebel yang membuat berbagai macam lemari, meja,
rak, dan kursi bahkan penyangga atau
alat bantu orang yang tidak bisa berjalan normal (maaf pincang) yang dipesan
oleh rumah sakit dekat rumah. Ketika saya usia sekolah, ayah saya menjadi
seorang sopir angkutan umum kota (angkot). Saya tidak mengerti mengapa ayah
saya beralih profesi. Tetapi, mungkin ketika itu ayah saya melihat tukang kayu
tidak lebih baik untuk ke depannya pada waktu itu. Memang unik pilihan ayah
saya ketika itu, padahal menjadi tukang kayu atau mebel menurut saya lebih keren
dibanding menjadi sopir angkot. Aaahhh… ternyata jawabannya simple,
tukang kayu atau mebel itu tergantung permintaan atau pesanan. Jika dibuat
terlalu banyak namun permintaan atau pesanan tidak ada atau kurang akan
merugikan usaha mebel itu sendiri. It’s brilliant, dad!
Menjadi sopir angkot Anda akan mendapat penghasilan yang cukup lumayan.
Dulu, ketika mobil-mobil angkot dan sepeda motor masih sedikit. Anda bisa
mendapat hasil lebih dari cukup. Tetapi kalau saat ini Anda ingin menjadi sopir
angkot. Anda akan mengerenyitkan dahi setiap saat. Karena Anda akan bersaing
dengan sesama angkot, kendaraan pribadi, dan ribuan motor bahkan ratusan ojek
online. Lalu apa istimewanya menjadi sopir angkot? Hhhmmm… kali ini Anda harus
lebih fokus lagi. Saya adalah anak yang cukup sering diajak ayah saya untuk narik
angkot. Memang ketika di dalam angkot satu dua putaran (rit)[1]
saya masih asyik melihat kepiawaian ayah saya dalam menarik penumpang. Namun,
ketika putaran ketiga saya tertidur pulas. Payah! Kembali ke pertanyaaan. Apa
istimewanya menjadi sopir angkot? Seorang sopir angkot harus pandai menarik
hati calon penumpang. “Pondok… Pondok… neng!” “Ayo pak!” “Ayo bu!” “Masih muat
neng!” itu kalimat yang masih terngiang-ngiang di telinga saya. Ia harus
meyakinkan calon penumpang untuk menumpang angkotnya sampai tujuan yang ingin
mereka capai. Anda sudah dapat clue sampai disini?
Dalam dunia pendidikan, mari kita
ganti istilah sopir angkot tersebut menjadi guru. Guru harus mampu meyakinkan
sang murid untuk mengantarkan mereka kepada yang mereka ingin capai. Sopir
angkot yang pandai merayu dan memberikan pelayanan terbaiknya akan banyak
penumpang yang ingin menaiki angkotnya. Guru yang menarik, kreatif dan inovatif
akan banyak disenangi murid dan mereka bersedia mengikuti segala perintah dan
arahannya.
Ilustrasi di atas adalah perjalanan
nyata hidup ayah saya. Saya tidak menggiring opini menjadi sopir angkot lebih
baik dari pada tukang mebel ataupun profesi lainnya. Tetapi, saya ingin Anda
bermain-main dalam alam pemikiran filsafat sederhana. Dan membuat kesimpulan
ilustrasi di atas sendiri. Jika Anda menebak saya adalah seorang guru. Ya, saya
adalah seorang guru madrasah ibtidaiyah, sekolah yang setara SD (Sekolah
Dasar). Namun, sudahkah Anda mengetahui mengapa saya menjadi guru dan bertahan
menjadi guru? Buat Anda mungkin ini tidak penting
Guru merupakan profesi mulia.
Profesi yang menentukan arah bangsa Indonesia yang besar ini. Sosok yang
dihormati orang lain di lingkungannya. Keberadaannya menjadi panutan dan
tauladan bagi siswa dan masyarakat sekitar. Ketika terjadi permasalahan guru
menjadi rujukan yang diambil nasehat dan arahannya. Meskipun sebesar itu peranannya, guru nampaknya
terpinggirkan oleh profesi lainnya bahkan dianggap remeh. Kalau boleh jujur.
Apakah Anda bersedia menjadi guru dan mengorbankan jabatan tinggi saat ini?
Apakah Anda siap hidup sederhana layaknya guru sejati yang hanya
mengabdi bukan karena sertifikasi? Apakah Anda siap menguji keikhlasan Anda
dalam menjalani hidup? Difficult question, right?
Saya memang guru muda dan masih
harus belajar banyak untuk menjawab pertanyaan di atas dari guru-guru sejati
negeri ini. Sampai detik ini, saya belum dapati diri saya mampu menjadi guru.
Nampaknya saya harus kembali mengikuti alur cita-cita saya ketika masih kecil
yaitu menjadi pengusaha atau pedagang. Namun, pikiran saya masih terpatri
kepada ungkapan saya sendiri dalam hati, “Guru adalah orang pilihan Tuhan.
Ketika saya dipilih Tuhan, mengapa saya lari dan tidak mau? Bukankah Nabi Saw
adalah seorang guru, bahkan beliau MAHA GURU?
Ungkapan itu yang menggelayut dalam
pikiran saya dan menjadikan saya tetap menjadi guru. Guru yang mengabdi untuk
negeri. Memberikan secercah pengabdian untuk bangsa Indonesia. Bercita-cita
menjadi guru sejati yang piawai dalam membawa sang murid sampai ke tujuan yang
mereka ingin capai hingga sukses seperti supir angkot yang mengantarkan
penumpang ke tempat yang mereka inginkan. Menjadi guru memang tidak mudah.
Mengajar itu seni. Ketika secara kognitif (pengetahuan) guru memiliki segudang
ilmu, guru harus pandai bagaimana men-deliver dan menyampaikannya kepada
siswa. Semakin indah dan baik deliver dan penyampaiannya, guru akan
terlihat luar biasa. Meskipun sedemikian hebatnya guru, ia harus sadar dan
memahami kemampuan anak didiknya. Sebagaimana nasehat Kyai Maimun Zubair yang
saya jadikan penutup kali ini.
“Jadi guru itu tidak usah punya niat
bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak
pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik
yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah.
Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”
Selain yang telah dipesankan oleh
Kyai Maimun, pesan bijak berikut juga patut direnungkan untuk para guru : “Yang
paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah
adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan,
terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara
satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.
Abdur Rahim
Guru MI Nurul Iman Bekasi

Post a Comment