Halloween Costume ideas 2015

Pilihan Menjadi Guru


Di waktu masih kanak-kanak, ketika ditanya apa yang kalian cita-citakan? Atau jika kalian sudah besar kalian ingin jadi apa? Sebagian besar anak-anak akan menjawab, saya ingin jadi dokter, saya ingin jadi polisi, saya ingin jadi pilot, saya ingin jadi tentara, dan saya ingin jadi guru. Khusus untuk cita-cita yang terakhir yang saya sebutkan, mungkin Anda akan menebak bahwa saya adalah anak yang termasuk yang memiliki cita-cita ingin jadi guru. Tidak! Bukan! Itu bukan saya.
Saya tidak memiliki cita-cita sedikit pun ingin menjadi guru atau pendidik. Ketika kecil, saya ingin sekali menjadi pengusaha atau pedagang. Ini serius!. Saya memiliki keinginan atau cita-cita seperti itu karena Nabi Muhammad Saw. adalah seorang pengusaha atau pedagang yang hebat. Sampai saat ini saya masih tetap memiliki keinginan menjadi pengusaha atau pedagang layaknya baginda Nabi Saw. Lalu, mengapa? Nampaknya judul berlawanan dengan isi bukan?. Ini tidak berhubungan!. Saya ingin membawa Anda masuk dalam dunia saya terlebih dahulu. Jadi, lepaskanlah  kepenatan dan cepatnya Anda mengambil kesimpulan. Stay enjoy!
Ayah saya ketika saya masih kecil adalah seorang tukang kayu atau mebel yang membuat berbagai macam lemari, meja, rak, dan  kursi bahkan penyangga atau alat bantu orang yang tidak bisa berjalan normal (maaf pincang) yang dipesan oleh rumah sakit dekat rumah. Ketika saya usia sekolah, ayah saya menjadi seorang sopir angkutan umum kota (angkot). Saya tidak mengerti mengapa ayah saya beralih profesi. Tetapi, mungkin ketika itu ayah saya melihat tukang kayu tidak lebih baik untuk ke depannya pada waktu itu. Memang unik pilihan ayah saya ketika itu, padahal menjadi tukang kayu atau mebel menurut saya lebih keren dibanding menjadi sopir angkot. Aaahhh… ternyata jawabannya simple, tukang kayu atau mebel itu tergantung permintaan atau pesanan. Jika dibuat terlalu banyak namun permintaan atau pesanan tidak ada atau kurang akan merugikan usaha mebel itu sendiri. It’s brilliant, dad!
Menjadi sopir angkot Anda akan  mendapat penghasilan yang cukup lumayan. Dulu, ketika mobil-mobil angkot dan sepeda motor masih sedikit. Anda bisa mendapat hasil lebih dari cukup. Tetapi kalau saat ini Anda ingin menjadi sopir angkot. Anda akan mengerenyitkan dahi setiap saat. Karena Anda akan bersaing dengan sesama angkot, kendaraan pribadi, dan ribuan motor bahkan ratusan ojek online. Lalu apa istimewanya menjadi sopir angkot? Hhhmmm… kali ini Anda harus lebih fokus lagi. Saya adalah anak yang cukup sering diajak ayah saya untuk narik angkot. Memang ketika di dalam angkot satu dua putaran (rit)[1] saya masih asyik melihat kepiawaian ayah saya dalam menarik penumpang. Namun, ketika putaran ketiga saya tertidur pulas. Payah! Kembali ke pertanyaaan. Apa istimewanya menjadi sopir angkot? Seorang sopir angkot harus pandai menarik hati calon penumpang. “Pondok… Pondok… neng!” “Ayo pak!” “Ayo bu!” “Masih muat neng!” itu kalimat yang masih terngiang-ngiang di telinga saya. Ia harus meyakinkan calon penumpang untuk menumpang angkotnya sampai tujuan yang ingin mereka capai. Anda sudah dapat clue sampai disini?
Dalam dunia pendidikan, mari kita ganti istilah sopir angkot tersebut menjadi guru. Guru harus mampu meyakinkan sang murid untuk mengantarkan mereka kepada yang mereka ingin capai. Sopir angkot yang pandai merayu dan memberikan pelayanan terbaiknya akan banyak penumpang yang ingin menaiki angkotnya. Guru yang menarik, kreatif dan inovatif akan banyak disenangi murid dan mereka bersedia mengikuti segala perintah dan arahannya.
Ilustrasi di atas adalah perjalanan nyata hidup ayah saya. Saya tidak menggiring opini menjadi sopir angkot lebih baik dari pada tukang mebel ataupun profesi lainnya. Tetapi, saya ingin Anda bermain-main dalam alam pemikiran filsafat sederhana. Dan membuat kesimpulan ilustrasi di atas sendiri. Jika Anda menebak saya adalah seorang guru. Ya, saya adalah seorang guru madrasah ibtidaiyah, sekolah yang setara SD (Sekolah Dasar). Namun, sudahkah Anda mengetahui mengapa saya menjadi guru dan bertahan menjadi guru? Buat Anda mungkin ini tidak penting
Guru merupakan profesi mulia. Profesi yang menentukan arah bangsa Indonesia yang besar ini. Sosok yang dihormati orang lain di lingkungannya. Keberadaannya menjadi panutan dan tauladan bagi siswa dan masyarakat sekitar. Ketika terjadi permasalahan guru menjadi rujukan yang diambil nasehat dan arahannya. Meskipun  sebesar itu peranannya, guru nampaknya terpinggirkan oleh profesi lainnya bahkan dianggap remeh. Kalau boleh jujur. Apakah Anda bersedia menjadi guru dan mengorbankan jabatan tinggi saat ini? Apakah Anda siap hidup sederhana layaknya guru sejati yang hanya mengabdi bukan karena sertifikasi? Apakah Anda siap menguji keikhlasan Anda dalam menjalani hidup? Difficult question, right?
Saya memang guru muda dan masih harus belajar banyak untuk menjawab pertanyaan di atas dari guru-guru sejati negeri ini. Sampai detik ini, saya belum dapati diri saya mampu menjadi guru. Nampaknya saya harus kembali mengikuti alur cita-cita saya ketika masih kecil yaitu menjadi pengusaha atau pedagang. Namun, pikiran saya masih terpatri kepada ungkapan saya sendiri dalam hati, “Guru adalah orang pilihan Tuhan. Ketika saya dipilih Tuhan, mengapa saya lari dan tidak mau? Bukankah Nabi Saw adalah seorang guru, bahkan beliau MAHA GURU?
Ungkapan itu yang menggelayut dalam pikiran saya dan menjadikan saya tetap menjadi guru. Guru yang mengabdi untuk negeri. Memberikan secercah pengabdian untuk bangsa Indonesia. Bercita-cita menjadi guru sejati yang piawai dalam membawa sang murid sampai ke tujuan yang mereka ingin capai hingga sukses seperti supir angkot yang mengantarkan penumpang ke tempat yang mereka inginkan. Menjadi guru memang tidak mudah. Mengajar itu seni. Ketika secara kognitif (pengetahuan) guru memiliki segudang ilmu, guru harus pandai bagaimana men-deliver dan menyampaikannya kepada siswa. Semakin indah dan baik deliver dan penyampaiannya, guru akan terlihat luar biasa. Meskipun sedemikian hebatnya guru, ia harus sadar dan memahami kemampuan anak didiknya. Sebagaimana nasehat Kyai Maimun Zubair yang saya jadikan penutup kali ini.
“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”
Selain yang telah dipesankan oleh Kyai Maimun, pesan bijak berikut juga patut direnungkan untuk para guru : “Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

Abdur Rahim
Guru MI Nurul Iman Bekasi


[1] Rit adalah rute perjalanan dari pangkalan angkot ke terminal pasar dalam satu putaran.

Labels:

Post a Comment

Streamtosoccer.com

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget