Sedekat apapun
persahabatan dan persaudaraan Abu Bakar dengan Rasulullah Saw, dan seberapa
besar Rasulullah Saw menyayangi dan mencintainya sebagai sahabat nomor satu
yang terkemuka, kesabaran Abu Bakar belumlah bisa menyamai kesabaran Rasulullah
Saw. Rasulullah Saw tidak pernah terpancing kemurkaanya, jika penghinaan dan
pelecehan itu ditujukan pada diri Rasulullah Saw sendiri. Lain jika pelecehan
dan penghinaan sudah mengarah pada agama Islam yang didakwahkannya, maka
Rasulullah akan segera naik pitam, dan segera membalas penghinaan terhadap
agama itu, setelah tidak berhasil berdamai di meja perundingan.
Dari Abu Bakar
sebenarnya sudah berusaha menyetarakan akhlaknya dengan akhlak Rasulullah Saw.
Namun Abu Bakar tetaplah manusia (bukan nabi), dimana setan masih bisa
merayunya untuk membalas sebuah cacian atau makian seseorang yang diarahkan
kepadanya. Sedangkan Rasulullah Saw, setan tak mampu lagi menggodanya, karena
mukjizat dan nur nubuwwah yang terpancarr di wajahnya. Tetapi beliau tetap
tidak suka melihat Abu Bakar terpancing emosinya ketika ada orang yang
mempermainkan perasaannya.
Peristiwa itu telah
terjadi, sebagaimana yang diriwayatakan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Pada
suatu ketika ada seseorang yang mencaci maki Abu Bakar dan Rasulullah Saw
sedang duduk (bersamanya), lalu Rasulullah Saw merasa kagum dan tersenyum
(melihat kesabaran Abu Bakar), tetapi ketika orang tersebut terus menerus
mencacinya, maka Abu Bakar sedikit membalasnya.”
Tiba-tiba murkalah
Rasulullah Saw lalu beliau bangkit dan pergi meninggalkan Abu Bakar. Kemudian
Abu Bakarr mengikutinya dan berkata: “Wahai Rasulullah, ketika ia sedang
mencaciku engkau duduk (terdiam), tetapi ketika aku sedikit membalasnya
(kenapa) engkau menjadi murka dan bangkit?”
Maka Rasulullah Saw
menjawab:
انَّهُ
كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدٌّ عَنْكَ فََلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ
وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَقْعُدَ مَعَ الشَّيْطَانِ
“Sungguh malaikat bersamamu membela dirimu, tetapi ketika engkau
membalas sebagian celaan itu, maka datanglah setan, aku tidak sudi duduk
bersama setan.”
Kemudian beliau
bersabda: “Wahai Abu Bakar, ada tiga kelompok manusia yang semuanya adalah
benar, 1) tidak seorang pun yang dianiaya dengan suatu kedzaliman lalu ia
menerimanya (dengan tabah) karena Allah kecuali Allah pasti akan memberinya
kemenangan yang mulia, 2) tidak seorang pun yang membuka pintu sedekah dengan
tujuan ingin menyambung tali silaturrahim kecuali Allah pasti akan memperbanyak
jumlah hartanya, dan 3) tidak seorang pun yang membuka pintu minta-minta dengan
tujuan ingin mengumpulkannya kecuali Allah pasti akan menjadikannya bertambah
sedikit.” (HR. Imam Ahmad).
Rasulullah Saw
sangat menyukai orang-orang yang sabar, karena dibalik sifat sabar itu,
ternyata tersimpan keberkahan yang demikan agung dan mulia. Contohnya sebagaimana
yang tertulis dalam hadits di atas, bahwa kedzaliman yang menimpa diri
seseorang dan diterimanya dengan lapang dada, maka Allah akan mengangkat
derajat orang tersebut ke arah yang lebih mulia dan dimuliakan.

Post a Comment