Halloween Costume ideas 2015

Teori Belajar yang Melandasi Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif dilandasi beberapa teori belajar, yaitu Teori Ketergantungan Sosial, Teori Behaviorime dan Teori Konstruktivisme.
1)      Teori Ketergantungan Sosial
Teori ini pertama kali diciptakan oleh Morton Deutsch. Ketergantungan sosial terjadi ketika setiap individu berbagi tujuan umum dan setiap individu mendapatkan dampak kegiatan yang lain.[1]
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat unsur ketergantungan positif yang ketika pelaksanaan proses pembelajarannya siswa saling berinteraksi yang masing-masing anggota kelompok berusaha untuk belajar bersama. Oleh sebab itu, teori ini menjadi bagian dari pembentuk yang melandasi pembelajaran kooperatif.
Saling ketergantungan ini dapat dicapai melalui:
a)      Pencapaian tujuan
b)      Menyelesaikan tugas
c)      Bahan atau sumber
d)     Peran
e)      Reward atau hadiah[2]
2)      Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi karena adanya rangsangan (stimulus) yang menimbulkan reaksi (respon) secara mekanis.[3]
Teori belajar ini banyak diterapkan di dalam proses pembelajaran karena sangat kuat jika tujuan yang ingin dicapai adalah hasil belajar semata dan mengkesampingkan proses belajar dan pemahaman siswa.
3)      Teori Konstruktivisme
Teori baru dalam psikologi pendidikan yaitu teori kontruktivisme. Teori ini lahir akibat ketidakpuasan terhadap teori behaviorisme yang menyatakan bahwa belajar adalah proses mekanis yang dipengaruhi oleh stimulus dan respon serta penguatan. Terlebih lagi dalam teori behaviorisme ini mempersamakan proses belajar manusia dengan hewan. Inilah yang mendorong para tokoh kontruktivisme mengemukakan teorinya.
Teori konstruktivis menyatakan bahwa siswa harus mampu menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.[4]
Jean Piaget dan Lev Vygotsky merupakan tokoh yang mempelopori teori belajar konstruktivisme. Menurut Piaget ketika bekerja sama terjadi konflik sosiokognitif yang menciptakan ketidakseimbangan yang menstimulus pandangan, mengangkat kemampuan dan pemikiran. Vygotsky menyampaikan bahwa pengetahuan sebagai suatu produk sosial.[5]
Kedua pandangan konstruktivisme Piaget dan Vygotsky dapat berdampingan. Piaget yang menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman. Vygotsky menekankan interaksi sosial dan proses membangun pengetahuan melalui lingkungan sosial.[6]
Piaget menjelaskan bahwa anak-anak belajar melalui penemuan individual semata sesuai perkembangan usianya, sedangkan Vygotsky mengatakan terdapat peranan orang dewasa dan anak-anak lain yang memudahkan perkembangan belajar anak.
Teori kognitif-konstruktivistik mengisyaratkan beberapa hal sebagai berikut:
a)      Sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas sebagai tempat untuk memecahkan masalah kehidupan.
b)      Pembelajaran seharusnya memberikan manfaat untuk menimbulkan rasa ingin tahu, memotivasi dan belajar secara aktif.
c)      Pembelajaran memberikan kesempatan bagi siswa untuk aktif terlibat, melakukan eksperimen dan membangun sendiri pengetahuan.
d)     Interaksi sosial dalam pembelajaran untuk memacu terbentuknya ide baru dan perkembangan intelektual siswa.[7]



[1]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet. III, h. 363-364
[2]Ibid., h. 364
[3]Ibid., h. 365
[4]Trianto, op. cit., h. 28
[5]Syaiful Bahri Djamarah, loc. cit.
[6]Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), Cet. VI, h. 202
[7]A. Rusdiana dan Yeti Heryati, op. cit., h. 178-179

Labels:

Post a Comment

Streamtosoccer.com

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget