Pembelajaran
kooperatif dilandasi beberapa teori belajar, yaitu Teori Ketergantungan Sosial,
Teori Behaviorime dan Teori Konstruktivisme.
1)
Teori Ketergantungan Sosial
Teori
ini pertama kali diciptakan oleh Morton Deutsch. Ketergantungan sosial terjadi
ketika setiap individu berbagi tujuan umum dan setiap individu mendapatkan
dampak kegiatan yang lain.[1]
Dalam
pembelajaran kooperatif terdapat unsur ketergantungan positif yang ketika
pelaksanaan proses pembelajarannya siswa saling berinteraksi yang masing-masing
anggota kelompok berusaha untuk belajar bersama. Oleh sebab itu, teori ini
menjadi bagian dari pembentuk yang melandasi pembelajaran kooperatif.
Saling
ketergantungan ini dapat dicapai melalui:
a)
Pencapaian tujuan
b)
Menyelesaikan tugas
c)
Bahan atau sumber
d)
Peran
e)
Reward atau hadiah[2]
2)
Teori Behaviorisme
Teori
belajar behaviorisme mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang
dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi karena
adanya rangsangan (stimulus) yang menimbulkan reaksi (respon) secara mekanis.[3]
Teori
belajar ini banyak diterapkan di dalam proses pembelajaran karena sangat kuat
jika tujuan yang ingin dicapai adalah hasil belajar semata dan mengkesampingkan
proses belajar dan pemahaman siswa.
3)
Teori Konstruktivisme
Teori
baru dalam psikologi pendidikan yaitu teori kontruktivisme. Teori ini lahir
akibat ketidakpuasan terhadap teori behaviorisme yang menyatakan bahwa belajar adalah
proses mekanis yang dipengaruhi oleh stimulus dan respon serta penguatan.
Terlebih lagi dalam teori behaviorisme ini mempersamakan proses belajar manusia
dengan hewan. Inilah yang mendorong para tokoh kontruktivisme mengemukakan
teorinya.
Teori
konstruktivis menyatakan bahwa siswa harus mampu menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.[4]
Jean
Piaget dan Lev Vygotsky merupakan tokoh yang mempelopori teori belajar konstruktivisme.
Menurut Piaget ketika bekerja sama terjadi konflik sosiokognitif yang
menciptakan ketidakseimbangan yang menstimulus pandangan, mengangkat kemampuan
dan pemikiran. Vygotsky menyampaikan bahwa pengetahuan sebagai suatu produk
sosial.[5]
Kedua
pandangan konstruktivisme Piaget dan Vygotsky dapat berdampingan. Piaget yang
menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan
pengalaman. Vygotsky menekankan interaksi sosial dan proses membangun
pengetahuan melalui lingkungan sosial.[6]
Piaget
menjelaskan bahwa anak-anak belajar melalui penemuan individual semata sesuai
perkembangan usianya, sedangkan Vygotsky mengatakan terdapat peranan orang
dewasa dan anak-anak lain yang memudahkan perkembangan belajar anak.
Teori
kognitif-konstruktivistik mengisyaratkan beberapa hal sebagai berikut:
a)
Sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih
besar dan kelas sebagai tempat untuk memecahkan masalah kehidupan.
b)
Pembelajaran seharusnya memberikan manfaat untuk
menimbulkan rasa ingin tahu, memotivasi dan belajar secara aktif.
c)
Pembelajaran memberikan kesempatan bagi siswa untuk
aktif terlibat, melakukan eksperimen dan membangun sendiri pengetahuan.
d)
Interaksi sosial dalam pembelajaran untuk memacu
terbentuknya ide baru dan perkembangan intelektual siswa.[7]
[1]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam
Interaksi Edukatif suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), Cet. III, h. 363-364
[4]Trianto, op. cit., h. 28
[5]Syaiful Bahri Djamarah, loc. cit.
[6]Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan
Profesionalisme Guru, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), Cet. VI, h.
202
[7]A. Rusdiana dan Yeti Heryati, op. cit., h. 178-179

Post a Comment